Thursday, May 25, 2017

dakwah dan problem kontemporer



DAKWAH DAN PROBLEM KONTEMPORER
Makalah
Makalah Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Dakwah
Dosen Pengampu : Drs. Kasmuri, M.Ag

Logo_uin_walisongo.png

Disusun Oleh:
Anis Lud Fiana                       (1401016026)
Reza Muhammad Azhari        (1401016084)
Dina R. Sa’diah                      (1401016101)
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016
       I.            PENDAHULUAN
Era globalisasi dan kontemporer ini seakan tidak bisa dibendung lajunya memasuki setiap sudut negara dan menjadi sebuah keniscayaan. Era ini menghendaki setiap negara beserta individunya harus mampu bersaing satu sama lain baik antar negara maupun antar individu. Persaingan yang menjadi esensi dari globalisasi sering memiliki pengaruh dan dampak yang negatif jika dicermati dengan seksama. Pengaruh yang ada dari globalisasi pada aspek kehidupan meskipun awal tujuannya diarahkan pada bidang ekonomi dan perdagangan serta memberikan dampak multidimensi.
Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah tantangan dakwah yang semakin hebat, baik yang bersifat internal mau­pun eksternal. Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern, seperti perilaku dalam menda­patkan hiburan (enter­tain­ment), kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin mem­buka peluang munculnya kerawanan-kerawanan moral dan etika.
Dampak globalisasi dalam dunia dakwah sangat dirasakan dampaknya. Banyak kasus yang muncul, misalnya pergaulan bebas yang juga muncul adalah dampak negatif dari nilai-nilai di atas. Persoalan miras, narkoba, dan lain-lain, dikarenakan sebuah pemujaan terhadap kebebasan pribadi yang tidak lagi mengindahkan nilai-nilai agama. Sehingga dampaknya ternyata bukan hanya menimpa dirinya sendiri, tetapi juga terhadap masyarakat dan siswa yang lain. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang  dakwah kontemporer.
    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian dakwah kontemporer ?
B.     Apa saja problema dakwah di era kontemporer ?
C.     Bagaimana metode dakwah kontemporer ?
 III.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian Dakwah Kontemporer
Dakwah kontemporer adalah dakwah yang dilakukan dengan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang. Dakwah kontemporer ini sangat cocok apabila dilakukan dilingkungan masyarakat latarbelakang menengah keatas.
Teknis dakwah kontemporer ini lain dengan dakwah kultural. Dimana dakwah kultural dilakukan dengan menyesuaikan budaya masyarakat setempat, tetapi dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti teknologi yang sedang berkembang. Persaingan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, khususnya dalam bidang periklanan adalah tantangan da’i untuk segera berpimdah ke dakwah kontemporer yaitu dakwah yang dimaksudkan adalah dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi modern contohnya iklan tv.
Materi dakwah yang tepat untuk menghadapi masyarakat modern ini adalah materi tentang kajian yang bersifat tematik, artinya islam harus di kaji dengan cara mengamil tema-tema tertentu sesuai dengan  tuntutan zaman. Sedangkan fasilitas yang tepat adalah dengan menggunakan media cetak dan elektronik.
B.     Problema Dakwah Sebagai Dampak dari Kemajuan Era Kontemporer
Beberapa problema dakwah sebagai dampak dari kemajuan era kontemporer ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Science dan Teknologi
Menurut Koentowijoyo, ada tiga problem yang dianggap paling menonjol bagi manusia modern dimana science dan teknologi sebagai basisnya dan dengan tiga problem tersebut, manusia modern pantas diibaratkan sebagai cermin yang terpecah-pecah. Problem-problem tersebut adalah industrialisasi, rasionalisasi, dan alienasi
a)      Problem Industrialisasi
Industrialisasi merupakan sebuah hasil dari pengembangan sience dan teknologi telah banyak membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat yang sebelumnya bergerak di sektor irigasi dan pertanian.  Pertanian sudah dianggap tidak menjanjikan, tidak saja karena hasilnya yang relatif rendah, tetapi juga lahan pertanian yang ada semakin berkurang sebagai akibat dari bertambahnya penduduk dan makin terkikisnya lahan pertanian oleh kegiatan industrialisasi.
Di sisi industralisasi memang menjadikan kehidupan lebih nyaman dengan memanfaatkan fasilitas yang diproduk oleh industri sehingga berbagai kesulitan dapat teratasi dengan tepat dan aman. Namun demikian karena industralisasi lebih mengutamakan efektifitas dan efisiensi maka nilai personal yang selama ini terbangun dalam masyarakat pertanian, bergeser menjadi inpersonal yang cenderung lebih individualis dan fragmatis.
Pada sisi lain industralisasi dengan demikian telah memaksa seseorang untuk tunduk di atas kerja mesin yang secara programing diatur, baik waktu, cara kerja maupun target hasil yang ingin dicapainya. Dengan kata lain manusia dipaksa dengan tunduk kepada kerja mesin  yang tidak mengenal rasa kemanusiaan dan yang terjadi hanyalah sebuah keinginan untuk mencapai hasil produk yang berlimpah.
Kondisi seperti ini pada akhirnya akan membentuk sebuah karakter, dimana manusia tidak mengenal sistem nilai dan moralitas agama yang slama ini dipegang teguh secara turun menurun. Kondisi masyarakat industrial dari perspektif budaya telah retak dan bercerai-berai dimana masyarakat yang selama ini berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan, yang menyangkut nilai baik, benar dan indah, menjadi terpecah-belah dan yang ada tinggallah naluri keindahan (estetika) saja. Dengan demikian moral Al qur’an yang baik dan benar tidak menjadi acuan.
b)      problem rasionalisasi
August Comte telah mempetakan perkembangan pengetahuan manusia secara evaluatif dari sejak pengetahuan yang bersumber dari agama yang meletakkan kekuatan adikodrati (Tuhan) sebagai penyebab segala peristiwa yang terjadi, bergeser pada pengetahuan metafisik. Pada periode ini peran Tuhan tergeser oleh potensi filsafat yang bersifat abstrak dan substantif. Selanjutnya pengetahuan manusia yang metafisis tersebut bergeser kepada pengetahuan yang bersifat faktual yang oleh penemunya, August Comte disebut positifisme. Pada era ini manusia menjadikan pengetahuan rill yang bersifat induktif sebagai sumber dari pengetahuan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan buah dari rasionalisme sudah mampu merubah tatanan kehidupan semakin nyaman dan mudah. Kemudahan-kemudahan itu dirasakan tidak saja menyentuh pada persolan akses terhadap potensi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi sudah merambah pada seluruh sektor kehidupan seperti ekonomi, budaya, pertanian, pendidikan, militar, birokrasi dan lain-lainnya.
Persoalan kemudian muncul, ketika sikap dan perilaku manusia secara utuh menyandar segala penyelesaian problema kehidupannya hanya kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, yang merupakan hasil temuan dan ciptaannya sendiri, maka pada akhirnya manusia tidak akan memberikan tempat kepada agama yang selama ini diyakini kebenarannya. Agama kemudian dianggap sebagai suatu yang hanya mengatur perkawinan, kematian serta ritual-ritual lain yang dapat menghubungkan manusia dengan maha pencipta saat ada kebutuhan. Artinya kalau tidak ada suatu kebutuhan, maka intervensi Tuhan tidak dibutuhkan.[1] 
c)      problem alienasi
Problem alienasi atau merasa asing dalam keramaian adalah sebagai akibat dari perkembangan industralisasi dan rasionalisasi. Manusia ketika itu banyak yang kehilangan pijakan, serta merasa berada dalam suatu kehidupan yang semakin tidak menentu. Tuhan yang diyakini, tidak banyak membantu dalam penyelesaian berbagai problem kehidupan, menjadikan manusia putus asa, dan tidak berdaya menghadapi kesulitan hidup yang ia sendiri tidak padam mengapa hal tersebut terjadi.
Bila demikian, problem alienasi tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tidak terlibat secara langsung dalam proses kemajuan. Hal tersebut dikarenakan mereka mengalami berbagai hal yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan akses dalam kemajuan, seperti kurang dibekalinya skill dan profesionalitas di tengah-tengah persaingan hidup. Tetapi lebih jauh alienasi  juga akan dirasakan oleh mereka yang cukup piawai dalam pemilihan terhadap berbagai fasilitas dan mereka yang mempunyai kemampuan dalam menyikapi suatu kehidupan yang dianggapnya lebih layak dan menjanjikan.
Untuk yang pertama, rasa ketersaingan akan melahirkan penyimpangan perilaku yang menyusahkan banyak orang seperti, tindak kejahatan yang disertai kekerasan, anak jalanan, pelacuran, msbuk-mabukan, bunuh diri serta meminta-minta dan lain-lainnya.
Kedua, rasa keterasingan akan melahirkan penyimpangan perilaku yang juga akan merugikan banyak orang seperti korupsi, penyucian uang, pemalsuan identitas, teror, bunuh diri, dan sebagainya. Semua penyimpangan perilaku tersebut adalah konsekwensi dari rasa keterasingan yang justru berada dalam kecukupan materi, serta sebagai konsekwensi dari rasa bosan yang justru berada dalam gemerlapannya hiburan.
Problem-problem kontemporer diatas semestinya tidak boleh terjadi bila agama islam, dalam artian yang sebenarnya, menjadi bagian dalam sistem kehidupan. Adakalanya tugas dakwah untuk menjelaskan berbagai akibat negatif dari penyimpangan perilaku dan tugas dakwah pula untuk membimbingnya ke jalan yang seharusnya dilalui sesuai dengan petunjuk Allah dan Rosulnya, melalui suatu pendekatan yang menyenangkan serta motifasi yang menyejukkan seperti yang dijelaskan Allah dalam surah Ali Imron 159 yang artinya maka disebabkan Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan dari diri sekelilingmu. Karena itu maaafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahkan dengan dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhny Allah menyukai orang-orang yang brtawakkal kepada-Nya.
2.      Informasi dan Globalisasi
Diakui bahwa kekuatan baru di era globalisasi, yaitu ketika dunia sudah tidak mengenal batas geografis, budaya dan bahkan agama seperti sekarang, adalah berada diatas kekuatan informasi, dan karenanya barang siapa yang menguasai informasi maka ditangan merekalah kekuatan berada.
Informasi sebagai kekuatan baru mampu membentuk sikap dan karakter seseorang berubah seketika, tidak hanya hitungan jam apalagi hari tetapi bisa dalam hitungan menit atau detik saja. Dengan demikian tidak salah kalau kemudian dikatakan bahwa informasi mampu menciptakan sebuah revolusi dalam suatu pranata sosial kehidupan global yang lebih desentralistik serta demokratis.
Namun demikian bukan berarti, revolusi informasi dan globalisasi itu tidak akan menimbulkan problem baru bagi kehidupan, paling tidak ada beberapa kekhawatiran dari dampak globalisasi dan teknologi informasi, misalnya dari tokoh George Gerbner seorang pakar komunikasi dan peneliti televisi di Amerika mengatakan bahwa televisi adalah agama masyarakat industri. Televisi telah menggeser agama-agama konvensional karena khotbah-khotbahnya didengar dan disaksikan oleh jamaah besar daripada jamaah agama manapun.[2]
3.      Kebangsaan dan Pluralisme
Istilah kebangsaan sering dikaitkan dengan sebuah bangsa dalam suatu ikatan keanggotaan yang disusun secara sengaja dan kadang memaksa dalam suatu bangsa atas dasar kesamaan identitas etnis dan keagamaan serta kesetiaan politik. Istilah lain yang searti adalah keumatan yang cenderung bernuansa religius karena kita umat adalah istilah Al Qur’an dan sering digunakan oleh umat islam yang penggunaannya sesuai dengan perkembangan umat Islam dari waktu ke waktu.
Menurut Sidney Jones,  kata umat dipakai hanya meliputi sesama kaum muslimin yang tinggal disebuah kawasan, ketika masyarakat suku-suku bangsa Indonesia di jajah oleh pemerintah kolonial. Kemudian berkembang meliputi semua kaum muslimin diseluruh dunia. Sedangkan pluralisme yang dalam filosofi bangsa Indonesia berada dalam bingkai Binneka Tunggal Ika, tidak hanya berkaitan dengan ras, etnis, bahasa dan warna kulit, tetapi juga menyangkut beberapa hal yang lebih luas seperti budaya dan agama.
Beberapa ayat ini menurut para ahli dapat menyembatani konsep plurarisme ini :
Hujurat ayat 13 yang artinya hal manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa kepada diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.
Demikian juga dalam surah al-Syura ayat 8 yang artinya  dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja).
4.      Civil society dan demokrasi
Problem dakwah yang lain adalah semakin kuatnya civil society dan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang dianggap oleh sebagian umat islam sebagai ancaman terhadap pemerintahan yang sah. Dalam dunia modern, civil society sebagai lembaga non pemerintah menghendaki warga sipil untuk lebih berdaya dalam menghadapi berbagai permasalahan bangsa dan negara, dan bersama kekuatan yang lain yaitu negara dan pengusaha secara bersama-sama membangun budaya yang demokratis.
Dalam teori kenegaraan modern ada tiga domain yang kesemuanya harus kuat yaitu negara, civil society atau masyarakat dan pengusaha. Dimana ketiganya saling membangun demokratisasi sesuai dengan konstitusi masing-masing.
Dakwah dengan demikian dapatnya menemukan tema-tema sentral yang menjembatani berbagai problema di atas, bahwa mayoritas bangsa indonesia adalah beragama Islam maka penguatan terhadap civil society sebenarnnya umat islam pihak yang diuntungkan . hal ini bisa dipahami karena civil society akan memposisikan daya tawar umat islam menjadi semakin kuat, sehingga upaya untuk menegosiasikan konsep daaan ajaran islam dalam tataran kebijakan negara akan lebih mudah dibanding dengan menggunakan kekuata fisik yang cenderung merusak citra islam sendiri.
5.      Agama dan sistem nilai
Problem kontemporer yang lain adalah keberagamaan agama dan sistem nilai yang dibangunnya bergeser kepada berbagai persoalan kehidupan yang dianggap telah menggantikan posisi agama dengan segala muatan sistem nilainya. Ketika manusia berada dalam suasana dimana kehidupan masih sederhana, keakraban serasa menyejukkan sehingga relasi antar manusia sangat personal dan penuh persaudaraan, dalam suasana sistem nilai yang di taati.
Namun ketika manusia sudah banyak tercukupi oleh berbagai fasilitas dan materi sebagai akibat dari kemajuan ilmu teknologi, sistem nilai yang dibangun oleh agama, bergeser kepada sistem nilai yang dibangun oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nilai agama tentang ukhuwah  dalam suasana batin keakraban yang sangat personal bergeser kepada nilai inpersonal. Nilai agama tentang ta’awun dalam suasana batin kegotong-royongan bergeser pada individualis, demikian seterusnya.[3]
6.      Metode Dakwah Kontemporer
Metode dakwah yang dapat di aplikasikan dalam berbagai pendekatan dakwah kontemporer, diantaranya adalah :
1.      Pendekatan personal ; pendekatan ini terjadi dengan individual. Antara Da’i dan mad’u langsung bertatap muka sehingga materi yang disampaikanlangsung diterima.
2.      Pendekatan pendidikan ; pada masa nabi dakwah lewa pendidikan dilakukan beriringan dengan masuknya islam kepada kalangan sahabat. Begitu juga pada masa sekarang ini bisa lilihat darinteraplikasinya dalam lembaga-lembaga pendidikan pesantren, yayasan yang bercorak islam ataupin perguruan yang terdapat materi-materi keislaman.
3.      Pendekatan diskusi ; pendekatan diskusi pada era sekarang dilakukan lewat berbagai diskusi keagamaan, da’i berperan sebagai nara sumber.
4.      Pendekatan penawaran ; cara ini dilakukan nabi dengan memakai metode yang tepat tanpa paksaan sehingga mad’u ketika meresponnya tidak dalam keadaan tertekan bahkan ia melakukannya dari hati.
5.      Pendekatan misi ; maksud dari pendekatan ini adalah pengiriman para da’i ke daerah-daerah di luar tempat domisili.[4]
 IV.            KESIMPULAN
Dakwah kontemporer adalah dakwah yang dilakukan dengan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang. Dakwah kontemporer ini sangat cocok apabila dilakukan dilingkungan masyarakat latarbelakang menengah keatas.
Teknis dakwah kontemporer ini lain dengan dakwah kultural. Dimana dakwah kultural dilakukan dengan menyesuaikan budaya masyarakat setempat, tetapi dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti teknologi yang sedang berkembang.
Beberapa problema dakwah sebagai dampak dari kemajuan era kontemporer ini dapat dijelaskan sebagai berikut : Science dan Teknologi, Informasi dan Globalisasi, Kebangsaan dan Pluralisme, Civil society dan demokrasi, Agama dan sistem nilai.















DAFTAR PUSTAKA

Rahmat ,Jalaludin, Islam Aktual, (Bandung: Mizan 1991)
Sunardi, Nietzsche, (Yogyakarta: LkiS, 1996)
Syamhudi , Hasyim, Filsafat Dakwah,(Yogyakarta: Pustaka Ilmu)












[1] St. Sunardi, Nietzsche, (Yogyakarta: LkiS, 1996), hlm. 43
[2] Jalaludin Rahmat, Islam Aktual, (Bandung: Mizan 1991). Hlm 71
[3]  Hasyim Syamhudi, Filsafat Dakwah,(Yogyakarta: Pustaka Ilmu) hlm. 241-248

terapi gestal



TERAPI GESTALT

Makalah Dibuat Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Analisis Perubahan Tingkah Laku
Dosen Pengampu : Drs. Tri Leksono, Ph, S.kom, M.Pd. Kons
Dibuat Oleh:
Wafa Amrullah           (1401016024)
Anis Lud Fiana           (1401016026)
Nur Sholihah               (1401016028)
Imamul Choiroh          (1401016030)


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016



       I.            PENDAHULUAN
Terapi Gestalt yang dikembangkan oleh Frederick S (Fritz) Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis bahwa individu-individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Karena bekerja terutama diatas prinsip kesadaran, terapi gestalt berfokus pada apa dan baaimana tingkah laku dan pengalaman disini dan sekarang dengan memadukan bagian-bagian kepribadian yang terpeah dan tak diketahui.
Asumsi dasar teori gestalt adalah bahwa individu-individu mampu menangani sendiri masalah-masalah hidupnya secara efektif. Mereka membuat penafsiran-penafsiran sendiri, menciptakan pertanyaan-pertanyaan sendiri, dan menemukan makna-maknanya sendiri. Maka disini akan dibahas tentang apa itu teori gestalt.
    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana Riwayat Hidup Tokoh Terapi Gestalt ?
B.     Bagaimana Konsep Utama Terapi Gestalt?
C.     Bagaimana Tehnik Terapi Gestalt ?
D.    Bagaimana Proses Terapeutik Serta Peran dan Fungsinya ?
 III.            PEMBAHASAN
A.    Riwayat Hidup Tokoh Terapi Gestalt
 Frederick S (Fritz) Perls (1893-1970) merupakan pendiri dan pengembang terapi Gestalt. Beliau lahir di Berlin dari keluarga kelas menengah kebawah Yahudi dia mengaku sebagai sumber dari banyak dari sumber kesulitan dari orang tuanya. Meskipun dia dua kali tidak lulus dari kelas 7 dan di keluarkan dari sekolah karena ada masalah dengan pihak penguasa dan akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya  dengan mengantongi gelar M.D (Medical Doctor ) dengan spesialisasi psikiatri. Pada tahun 1916 dia bergabung dengan Angkatan Darat Jerman dan bertugas sebagai dokter pada perang dunia 1.
Seusai perang, Perls bekerja di Goldstein Institute untuk perawatan  Prajurit yang Cidera Otak di Frankrfurt. Melalui asosiasi inilah dia melihat pentingnya manusia sebagai suatu kesatuan dan bukan sebagai kumpulan dari bagian-bagian yang berfungsi terpisah-pisah.Ia kemudianpindah ke Viena dan melalui latihan Psikoanalitiknya. Dia ada analisis oleh Wilhelm Reich, seorang Psikanalis  yang merintis metode pemahaman diri dan perubahan kepribadian dengan jalan menangani tubuh. Dia juga disupervisi oleh bebrapa tokoh kunci dari gerakan psikoanalitik termasuk Karen Horney.
Pearl melepaskan diri dari tradisi psikoanalitik sekitar waktu ia beremigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1952. Ia kemudian mendirikan New York Institute for Gestalt Terapi pada tahun 1952. Padaa akhirnya dia menetap di Big Sar, California, dan memberikn lokakarya dan seminar di Esalen Institute, menunjukkan dirinya sebagai innovator di bidang psikoterapi.Disini Pearls menanamkan dampak pada rakyat, sebagian melalui kontak personal di kegiatan lokakaryanya.
            Secara pribadi Pearl adalah vital dan juga membingungkan. Pada umumnya orang akan memberikan respon terhadapnya dngan rasa kagum atau bersifat konfrontatif dan memandangnya sebagai orang yang memenuhi kebutuhan pribadinya  deengan jalan berlagak. Secara berbeda-beda ia dipandang sebagai penuh pemahaman, cerdik, pandai, provokatif, manipulative, bersikap permusuhan, banyak tuntutan dan pemberi inspirasi. Sayangnya beberapa orang yang menghadiri lokakaryanya menjadi pengikut dari sang “guru”. Kemudian pergi untuk menyebarluaskan ajarannya tentang terapi Gestalt. Meskipun dalam salah satu bukunya Pearl menyebutkan kepeduliannya terhadap mereka yang secara otomatis berfungsi sebagai terapis Gestal dan menjadi promotor terjadinya ketidakaslian pendekatan itu, ternyata menurut banyak orang dia hanya berbuat sedikit saja untuk menjatuhkan semangat para penganut ajaran secara membabibuta ini.[1]
B.     Konsep Utama Terapi Gestalt
Pandangan Gestalt tentang kodrat manusia, seperti yang telah kita lihat berakar dari falsafah ekstensial dan fenomenologi. Pandangan ini menekankan konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tanggung jawab, kesatuan pribadi, dan mengalami cara-cara yang menghambat kesadaran.
Asumsi dasar dari terapi gestalt adalah bahwa para individu dapat menangani sendiri poblema hidup mereka secara efektif, terutama apabila mereka memanfaatkan secara tuntas kesadaran mereka akan apa yang terjadi dalam diri dan sekitar mereka. Oleh karena adanya problem-problem tertentu dalam perkembangan, orang yang membentuk berbagai cara untuk menghindari problema itu dan oleh karenanya dalam pertumbuhan pribadi mereka mengalami jalan buntu.
Bagi Perls, tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Karena masa lalu telah pergi dan masa depan belum terjadi,maka saat sekaranglah yang terpenting. Guna membantu klien untk membuat kontak dengan saat sekarang, terapis lebih suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan ”apa” dan “bagaimana” ketimbang “mengapa”, karena pertanyaan mengapa dapat mengarah pada pemikiran yang tak berkesudahan tentang masa lampau yang hanya akan membangkitkan penolakan terhadap saat sekarang.
Konsep dasar pendekatan Gestalt adalah Kesadaran, dan sasaran utama Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Menurut buku kesadaran meliputi:
1.      Kesadaran akan efektif apabila didasarkan pada dan disemangati oleh kebutuhan yang ada saat ini yang dirasakan oleh individu
2.      Kesadaran tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi dan bagaimana seseorang berada di dalam situasi tersebut.
3.      Kesadaran itu selalu ada di sini-dan-saat ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan, bukan sesuatu yang mustahil terjadi.[2]

C.     Tehnik Terapi Gestalt
            Mengenai tujuan terapi Gestalt, Ivey et al (1987)  mengatakan agar seseorang lebih menyadari kehidupannya dan tanggung jawab terhadap arah kehidupannya. Corel (1991) mengatakan mengenai tujuan Gestalt : untuk membantu pasien mencapai penyadaran pada setiap saat pengalamannya. Untuk merangsang pasien agar menerima tanggung jawabnya mengenai dukungan dari dunia dalamnya sendiri yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dukungan dari dunia luar. George dan Cristiani (1981) juga mengatakan hal ini mengenai tujuan terapi Gestalt dan menambahkan tujuan lainnya yakni agar pasien bisa mencapai intregasi dalam dirinya sebagai pribadi dengan kepribadian yang terintegrasi secara keseluruhan.[3]
Terapi Gestalt bisa dilakukan dengan beberapa tehnik sebagai berikut :
1.      Permainan dialog
           Terapi gestalt menaruh pada perhatian yang besar pada pemisahan dalam fungsi kepribadian. Yang paling utama adalah pemisahan antara : “top dog” dan “underdog”. Tehnik kursi kosong adalah suatau cara untuk mengajak klien agar mengeksternalisasi introyeksinya. Dalam tehnik ini dua kursi diletakkan ditengah ruangan. Terapis meminta klien untuk bermain peran.
2.      Berkeliling (membuat lingkaran)
           Dimana klien diminta untuk berkeliling ke anggota-anggota kelompokknya dan berbicara atau melakukan sesuatu dengan setiap anggota itu. Maksud tehnk ini adalah untuk menghadapi, memberanikan, dan berexperimen dengan tingkah laku yang baru.
3.      Saya memikul tanggung jawab
           Dalam tahap ini, terapis meminta untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian menambahkan pada pernyataan itu kalimat “ dan saya bertanggung jawab untuk ini”.
4.      Saya memiliki rahasia
           Tehnik ini dimaksudkan untuk mengekplorasi perasaan-perasaan berdosa dan malu. Terapis meminta pada klien untuk berkhayal tentang suatu rahasia pribadi yang terjaga dengan baik.
5.      Bermain proyeksi
           Dalam permainan ini terapis meminta klien yang meangatakan “saya tidak bisa mempercayaimu” untuk memainkan peran sebagai orang yang tidak bisa menaruh kepercayaan guna menyingkapkan sejauh mana ketidakpercayaan itu menjadi konflik dalam dirinya.
6.      Pembalikan
           Teori yang melandasi tehnik pembalikan adalah teori bahwa klien terjun kedalam suatu yang ditakutinya karena dianggap bisa menimbulkan kecemasan dan menjalin hubungan dengan bagian-bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya. Oleh karena itu tehnik ini bisa membantu para klien untuk mulai menerima atribut-atribut pribadinya yang telah dicoba diingkarinya.
7.      Ulangan
           Banyak pemikiran yang merupakan pengulangan. Dalam fantasi, kita mengulang-ulang peran yang kita anggap masyarakat mengharapkan kita memainkannya. Ketika tiba saat menampilkannya, biasanya kita mengalami demam panggung atau kecemasan yakni kita takut tidak mampu memainkan peran kita itu dengan baik.
8.      Melebih-lebihkan
           Permainan ini berhubungan dengan konsep peningkatan kesadaran atas tanda-tanda dan isyarat halus yang dikirimkan oleh seseorang melalui bahasa tubuh, gerakan, sikap badan, dan mimic muka. Klien diminta untuk melebih-lebihkan gerakannya atau mimik wayahnya secara berulang-ulang.
9.      Bisakah anda tetap dengan perasaan ini?
           Tehnik ini bisa digunakan pada klien menunjukkan pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang ia sangat ingin menghindarinya. Terapis mendesak klien untuk tetap dengan atau menahan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
D.    Proses Terapeutik Serta Peran dan Fungsi
Pada dasarnya terapi Gestalt pertemuan eksistensial antar orang, dan dari pertemuan itu klien cenderung untuk bergerak kearah tertentu. Arah itu,a atau ssaran umum dari proses Gestalt diberikan garis besarnya oleh Zinker (1978) sebagai pertumbuhan lanjut dari pertemuan terapeutik murni, maka diharapkan klien akan:
a.       Maju kearah peningkatan kessadaran akan diri.
b.      Secara bertahap mangansumsikan kepemilikan pengalaman (sebagai lawan dari menjadikan orang lain bertanggung jawab akan yang mereka pikirkan, rasakan, dan lakukan).
c.       Mengembangkan kemampuan dan memiliki nilaiyang akan membuat mereka berpuas diri dengan kebutuhan mereka sendiri tanpa harus melanggar hak orang lain.
d.      Menjadi sadar akan seluruhn perasaannya.
e.       Belajar untuk menerima tanggung jawab akan apa yang mereka lakukan, termasukmenerima konsekuensi akan semua tingkah laku mereka.
f.       Beranjak dari dukungan dari luar menuju dukungan internall yang makin meningkat.
g.      Masih juga mampu meminta danmendapatkan pertolongan dari oranglain serta memberikan pertolongan kepada orang lain.
Bidikan langsung dari proses gestalt diarahkan pada mendaptkan kesadaran.  Tanpa kesadaran, klien tidak memiliki kapasitas untuk bisa mengubah kepribadian .dengan kesadaran mereka memiliki kapasitas untuk menghadapi dan menerima bagian keberadaan mereka yang mereka ingkari dan berhubungan dengan pengalaman dan realitas.
Fungsi penting dari terapi gestalt adalah menaruh perhatian pada bahasa tubuh si klien. Bahasa non verbal klien memberi petunjuk bagi konselor suatu informasi yang banyak, oleh karena mereka sering menghayati perasaan yang oleh klien sendiri tidak disadari. Perls menulis bahwa postur tubuh klien, gerakannya, isyarat tubuh,, suara keragu-raguan, dan sebagainya mengutarakan citera yang sesungngguhnya. Dia memperingatkan bahwa bohong dan bahwa apabila terapis berorientasi pada pada apa yang dikatakan ia tidak mendapatkan esensi orang itu. Komunikasi yang riil adalah lebih dari apa yang diutarakan oleh kata-kata.
Selain menaruh perhatian pada bahasa non verbal klien, konselor gestelt memberi tekanan pada hubungan antara pola bahasa dan kepribadian. Pendekatan ini mengisyaratkan bahwa pola bicara klien sering kali merupakan ungkapan perasaannya, pikirannya, dan sikapnya. Pendekatan ini memfokuskan pada kebiasaan berbicara yang terbuka sebgai sarana untuk meningkatkan kesadran klien akan diri mereka sendiri, terutama dengan meminta kepadanya untuk mencatat apakah kata-kata mereka kongruen dengan apa yang mereka alami atau malahan menjauhkan mereka dari emosi mereka.
Fungsi dari konselor Gestalt adalah secara halus berkonfrontasi dengan klien dengan jlan intervensi-intervensi yang menolong mereka untuk menjadi sadar akan akibat pola bahasa mereka. Dengan memfokuskan pada bahsa, klien bisa meningkatkan kesadaran mereka akan apa yang dialami pada saat sekarang dan akan cara mereka menghindari kontak dengan pengalaman disini dan sekarang.[4]
 IV.            KESIMPULAN
Pandangan Gestalt tentang kodrat manusia, seperti yang telah kita lihat berakar dari falsafah ekstensial dan fenomenologi. Pandangan ini menekankan konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tanggung jawab, kesatuan pribadi, dan mengalami cara-cara yang menghambat kesadaran.
Terapi Gestalt bisa dilakukan dengan beberapa tehnik sebagai berikut : Permainan dialog, Berkeliling (membuat lingkaran), Saya memikul tanggung jawab, Saya memiliki rahasia, Bermain proyeksi, Pembalikan, Ulangan, Melebih-lebihkan, Bisakah anda tetap dengan perasaan ini?.
Fungsi dari konselor Gestalt adalah secara halus berkonfrontasi dengan klien dengan jlan intervensi-intervensi yang menolong mereka untuk menjadi sadar akan akibat pola bahasa mereka. Dengan memfokuskan pada bahsa, klien bisa meningkatkan kesadaran mereka akan apa yang dialami pada saat sekarang dan akan cara mereka menghindari kontak dengan pengalaman disini dan sekarang.
















DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald,  Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi, (California: Pacifi Grove :1990)
Gunary, D , Konseling dan Psikoterapi (Amsterdam : 1992)
Subandy,  M.A, Psikoterapi ( Yogyakarta : 2002)



[1] Gerald, Corey, Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi, (California: Pacifi Grove :1990), hlm 326

[2]M.A Subandy, Psikoterapi ( Yogyakarta : 2002), hlm 96
[3] D. Gunary, Konseling dan Psikoterapi (Amsterdam : 1992), hlm 187-188
[4] Gerald, Corey, Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi, (California: Pacifi Grove :1990), halm 336-345